Sep 29, 2018

Aku terdiam

Aku terdiam.
Namun, benakku seperti memilikki pilihannya sendiri.
Diantara huruf inilah, jiwaku berbisik.
Diantara baris-baris sajak inilah, dukaku berbenah.

Hanya aku berdua, dengan penakku.
Lalu datang lagi; waktu, sehingga kami lengkap.
Kami bersama-sama merebus kata dengan api yang tak pernah padam; yang telah ku tabung.

Ideologi-ideologiku seakan memudar, seakan tercuci oleh keringat yang meraung-raung untuk beristirahat. Memang, hidup ini penuh dengan tikungan yang tajam. Dan ditengah kecuraman itu, memang terukir sebuah pilihan' Apakah kau akan menjadi sebuah sabda, atau larut bersama ribuan kata diambang kesunyian?

Aku terdiam - lagi.

No comments :

Post a Comment

Back to Top