I'm here! with my thoughts, sincerely.
Stuck in square 1. Stuck.. with my own thoughts? I guess.
The sky isn't clear as day. The night sky's been crawling into my head, robbing my thoughts. My thoughts are perplexed. And me? Well, I'm just.. trying. Trying to swim away the doubts, the goosebumps, the pessimistic, the curiosity, the damned.
It's always been like this. I'm a lost duck trying to get back to it's purposes. I'm swimming but I'm drowning, although I am not literally drowning. Still alive but barely living.
I need to find my way. To create myself. To discover my identity. To invent and reinvent the meaning of life.
Now, I realized, choice is what matters. But, why is the answer that I'm looking for is none of the choices available? Or is it just not there, yet? Should I find it?
I'm lost. I need to get to my feet.
I'm lost. I need to keep my thoughts away from me.
I'm lost. Will it be okay?
I'm lost. But I'm in the journey of discovery.
I'm lost. But I will keep swimming. I will get to where I'm meant to be. Better than ever. Someday.
Someday. When the sky is clear as day.
Oct 31, 2018
Sep 29, 2018
Aku terdiam
Aku terdiam.
Namun, benakku seperti memilikki pilihannya sendiri.
Diantara huruf inilah, jiwaku berbisik.
Diantara baris-baris sajak inilah, dukaku berbenah.
Hanya aku berdua, dengan penakku.
Lalu datang lagi; waktu, sehingga kami lengkap.
Kami bersama-sama merebus kata dengan api yang tak pernah padam; yang telah ku tabung.
Ideologi-ideologiku seakan memudar, seakan tercuci oleh keringat yang meraung-raung untuk beristirahat. Memang, hidup ini penuh dengan tikungan yang tajam. Dan ditengah kecuraman itu, memang terukir sebuah pilihan' Apakah kau akan menjadi sebuah sabda, atau larut bersama ribuan kata diambang kesunyian?
Aku terdiam - lagi.
Namun, benakku seperti memilikki pilihannya sendiri.
Diantara huruf inilah, jiwaku berbisik.
Diantara baris-baris sajak inilah, dukaku berbenah.
Hanya aku berdua, dengan penakku.
Lalu datang lagi; waktu, sehingga kami lengkap.
Kami bersama-sama merebus kata dengan api yang tak pernah padam; yang telah ku tabung.
Ideologi-ideologiku seakan memudar, seakan tercuci oleh keringat yang meraung-raung untuk beristirahat. Memang, hidup ini penuh dengan tikungan yang tajam. Dan ditengah kecuraman itu, memang terukir sebuah pilihan' Apakah kau akan menjadi sebuah sabda, atau larut bersama ribuan kata diambang kesunyian?
Aku terdiam - lagi.
Sep 21, 2018
Pemulihan
Biarkan saja aku terbaring disini.
Tidak tahu kamu terbaring dimana,
Asalkan semesta kita satu.
Bukan karena masih merasa memiliki,
Tetapi masih ada yang tertinggal,
Yang senantiasa tergelincir didalam manifestasi bayang-bayang.
Antara kau lupa, atau kau mati,
Seganas-ganasnya api,
Dia masih menyisahkan serpihan jejaknya,
Dan serpihan partikel yang ia jamah,
Tidak sepertimu.
Menghabiskan waktu dan menjerit menghempaskan lampau yang kini menjadi ketakutan dalam penghabisan.
Namun, barangkali,
Saat aku berdoa malam ini,
Kegelisahan yang pucat itu akan tergegas,
Dan anagn-angan panjang ini akan terisi,
KArena bagiku,
Aku hanya membutuhkan makna.
Dan kau adalah makna; saat sungai dan petir menjelma pada bola matamu.
Tidak tahu kamu terbaring dimana,
Asalkan semesta kita satu.
Bukan karena masih merasa memiliki,
Tetapi masih ada yang tertinggal,
Yang senantiasa tergelincir didalam manifestasi bayang-bayang.
Antara kau lupa, atau kau mati,
Seganas-ganasnya api,
Dia masih menyisahkan serpihan jejaknya,
Dan serpihan partikel yang ia jamah,
Tidak sepertimu.
Menghabiskan waktu dan menjerit menghempaskan lampau yang kini menjadi ketakutan dalam penghabisan.
Namun, barangkali,
Saat aku berdoa malam ini,
Kegelisahan yang pucat itu akan tergegas,
Dan anagn-angan panjang ini akan terisi,
KArena bagiku,
Aku hanya membutuhkan makna.
Dan kau adalah makna; saat sungai dan petir menjelma pada bola matamu.
Jun 27, 2017
Mechanism
You are delightfully chaotic,
But I slipped into your mortal revelations,
From which I can't swim back,
From which I can't recovered,
Because somewhere inside of me,
will always be the person I am today.
But I slipped into your mortal revelations,
From which I can't swim back,
From which I can't recovered,
Because somewhere inside of me,
will always be the person I am today.
Dec 1, 2016
Sesederhana itu.
Kau telah menyentuh sisi terdalamku,
Bersijingkat bersama sel-sel dalam tubuhku,
Dan menghembuskan jejakmu disetiap sudutnya.
Menamoar relung jiwaku, yang selama ini ku sembunyikan.
Aku memang tidak betul-betul mengenalmu,
Namun, ternyata, cinta sesungguhnya suka bersemayam diantara sepi-sepi jiwa yang tidak memaksa untuk dikenal, tetapi hadir untuk dimengerti.
Bersijingkat bersama sel-sel dalam tubuhku,
Dan menghembuskan jejakmu disetiap sudutnya.
Menamoar relung jiwaku, yang selama ini ku sembunyikan.
Aku memang tidak betul-betul mengenalmu,
Namun, ternyata, cinta sesungguhnya suka bersemayam diantara sepi-sepi jiwa yang tidak memaksa untuk dikenal, tetapi hadir untuk dimengerti.
Jun 23, 2016
Wanita Yang Marah
Kau meninggalkanku dengan sebuah pena dan kertas kosong, memaksaku untuk menyelesaikan cerita kita disaat huruf-hurufku telah mati bersamamu. Seolah, aku harus segera melontarkan sederet kata yang pernah kau maknai, sehingga membuatmu terkenang dalam batas jelaga ruang dan waktu.
Kau meninggalkanku, dan meninggalkan ratusan jejak yang kutemui dimana-mana. Diantara setiap kata-kata yang ku tulis, dan disela-sela huruf yang kutemui. Di balik hitamnya awan-awan malam, dan didalam hembusan angin kota Tokyo. Dan didalam secangkir kopi yang membatasi mimpi dengan realita, yang selalu menjauhkanku dari keinginan untuk memilikimu.
Aku memang memaksamu untuk meninggalkanku. Tapi, jangan bawa kenangan kita bersamamu. Tinggalkanlah kenangan itu bersamaku, disini. Aku masih mau melihat kepingan-kepingan itu - hanya berdiam diri saja dan meresapinya sampai relung terdalamku. Barangkali, kenangan itu dapat terealisasikan dan terulangf kembali. Barangkali, dalam dinding waktu berbeda, dan dengan sepasang mata yang berbeda.
- NIA
Kau meninggalkanku, dan meninggalkan ratusan jejak yang kutemui dimana-mana. Diantara setiap kata-kata yang ku tulis, dan disela-sela huruf yang kutemui. Di balik hitamnya awan-awan malam, dan didalam hembusan angin kota Tokyo. Dan didalam secangkir kopi yang membatasi mimpi dengan realita, yang selalu menjauhkanku dari keinginan untuk memilikimu.
Aku memang memaksamu untuk meninggalkanku. Tapi, jangan bawa kenangan kita bersamamu. Tinggalkanlah kenangan itu bersamaku, disini. Aku masih mau melihat kepingan-kepingan itu - hanya berdiam diri saja dan meresapinya sampai relung terdalamku. Barangkali, kenangan itu dapat terealisasikan dan terulangf kembali. Barangkali, dalam dinding waktu berbeda, dan dengan sepasang mata yang berbeda.
- NIA
Aug 18, 2014
Rindu
Damai tidak dapat berbuat, kita hanya terus meresapi untaian yang ada, cinta yang tumbuh diatas putih. Derai itu terus mendesakku, namunku terus mendekapkan diri diparuh waktu. Hanya ini yang dapat ku persembahkan, rindu yang mendalam.
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)
