Kau meninggalkanku dengan sebuah pena dan kertas kosong, memaksaku untuk menyelesaikan cerita kita disaat huruf-hurufku telah mati bersamamu. Seolah, aku harus segera melontarkan sederet kata yang pernah kau maknai, sehingga membuatmu terkenang dalam batas jelaga ruang dan waktu.
Kau meninggalkanku, dan meninggalkan ratusan jejak yang kutemui dimana-mana. Diantara setiap kata-kata yang ku tulis, dan disela-sela huruf yang kutemui. Di balik hitamnya awan-awan malam, dan didalam hembusan angin kota Tokyo. Dan didalam secangkir kopi yang membatasi mimpi dengan realita, yang selalu menjauhkanku dari keinginan untuk memilikimu.
Aku memang memaksamu untuk meninggalkanku. Tapi, jangan bawa kenangan kita bersamamu. Tinggalkanlah kenangan itu bersamaku, disini. Aku masih mau melihat kepingan-kepingan itu - hanya berdiam diri saja dan meresapinya sampai relung terdalamku. Barangkali, kenangan itu dapat terealisasikan dan terulangf kembali. Barangkali, dalam dinding waktu berbeda, dan dengan sepasang mata yang berbeda.
- NIA
